MENGGAPAI KEBERKAHAN RAMADHAN 1 (MANISNYA IMAN)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, apabila beliau berbuka, beliau membaca : “Dzahaba-dz Dzama’u, Wabtalati-l ‘Uruuqu wa Tsabata-l Ajru, Insyaa ALLAH SWT” (Telah hilang dahaga, urat-urat telah basah, dan telah diraih pahala, Insya ALLAH SWT)
(HR. Imam Abu Daud 2357, Ad-Daruquthni dalam sunannya 2279, Al-Bazzar dalam Al-

Musnad 5395, dan Al-Baihaqi dalam As-Shugra 1390
Hadits ini dinilai hasan oleh Al-Alban

(Afterthought Ash-Haabul Yamiin)
*
ALHAMDULILLAH. Innalhamdalillah binikmatillah. Laa haula walaa quw-wata illa billa hil aliyyil’adziim. Yaa dzal jalaali wal-ikrom. Mugi kemawon panjenengan wonten ing ndelem siang meniko tansah pinaringan , umur barokah, keluarga barokah, rizki barokah, sawayah-wayah dipundhut khusnul khootimah. Ilaa yaumil qiyamah fii syafa’ati Rasulillah SAW. Amien Yaa Mujibassailiin.

Segala puji bagi ALLAH SWT yang telah mengangkat harkat derajat manusia dengan ilmu dan amal, atas seluruh alam. Salawat dan Salam semoga terlimpah atas Nabi Muhammad SAW, pemimpin seluruh umat manusia, dan semoga pula tercurah atas keluarga dan para sahabatnya yang menjadi sumber ilmu dan hikmah.
Saudaraku Para Jamaah Majleis Dzikir Wa Ta’lim Ash-haabul Yamiin dan Shabata, Rekan Swjawat Rahimahullah, bagi yang menjalankan IBADAH PUASA waktu BERBUKA adalah saat yang penuh bahagia. Perasaan gembira dan bahagia memenuhi seluruh rongga, jiwa dan raga, dan saat berbuka tiba semakin terasa.

Perasaan itu pula yang digambarkan oleh Nabi Muhammad Rasulullah SAW bahwa orang yang BERPUASA akan mendapat dua kebahagiaan, sebagaimana diriwayatkan dalam Hadits Imam Buchori dan Muslim, seperti sabdanya : “Orang yang berpuasa itu akan mendapat dua kegembiraan. Yang pertama gembira ketika berbuka, dan yang kedua gembira ketika berjumpa dengan Tuhannya di kemudian hari nanti”

Walaupun pada berbuka hanya dengan segelas air putih, akan tetapi terasa begitu nikmat ketika meminumnya. Bahkan lebih nikmat bila dibandingkan dengan meminum segelas kopi susu atau teh manis bagi orang yang TIDAK PUASA. Maka itu ALLAH SWT Berfirman dalam Surah Al Baqarah Ayat 183 yang Artinya : “Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan PUASA (Bulan Ramadhan) atas kamu sekalian, sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu, agar kamu sekalian bertakwa“

Mengapa PUASA RAMADHAN diwajibkan kepada ORANG BERIMAN ? Apa yang disebut IMAN ? Bagaimana NIKMATNYA IMAN ? Lafadz “Yaa Ayyuhalladzii-na Aamanu..” atau Hai Orang Beriman seolah sebuah KALIMAT yang sangat sederhana, namun SULIT untuk kita jalankan sesuai PERINTAH ALLAH SWT. Inti dari Makna KATA IMAN adalah PERCAYA. Akan tetapi tidak CUKUP hanya sekadar PERCAYA, namun PERCAYA TANPA SYARAT atau HAQQUL YAQIN.

Bila hati kita dapat menyentuh ke ranah IMAN tersebut, pasti akan merasakan DUA KEGEMBIRAAN (Kebahagiaan), sebagaimana SESEORANG yang berpuasa kemudian bertemu WAKTU BERBUKA dan RABBNYA. Itulah bahwa seseorang tersebut disebut telah mendapatkan MANISNYA IMAN. Sekaligus ia akan merasakan bagaimana mendapatkan NIKMATNYA IMAN. Saking NIKMATNYA MEREGUK IMAN, hingga ia bisa merasakan CINTA KASIH ALLAH SWT.

Lafadz “Yaa Ayyuhalladzii-na Aamanu..”, temasuk Ayat Madaniyah atau diturunkan di Madinah (Setelah Hijrah), sedangkan yang diawali dengan “Yaa Ayyuhannaas…” atau “Yaa Banii Aadaam …“, adalah AYAT-AYAT Makiyyah atau diturunkan di Kota Makkah Al-Mukaromah.

Islam dibangun dengan DUA PILAR : RUKUN IMAN dan RUKUN ISLAM. Salah satu RUKUN IMAN adalah tentang KEBERADAAN ALLAH SWT secara MUTLAK. Tiada Tuhan Selain ALLAH SWT. Dan salah satu RUKUN ISLAM adalah menjalankan PUASA RAMADHAN, artinya bahwa KEDUDUKAN HUKUM PUASA RAMADHAN bukanlah sekadar WAJIB namun SEBAGAI RUKUN ISLAM. Artinya, bila seseorang mengaku MUSLIM namun tidak menjalankan salah satu RUKUN ISLAM (tanpa ada UDZUR SYAR’I), maka belum disebut IMAN.

Secara jelas Nabi Muhammad Rasulullah SAW menjelaskan MAKNA IMAN dalam sebuah Hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim, “IMAN adalah engkau mengimani ALLAH SWT, mengimani Malaikat-Nya, mengimani Kitab-Kitab-Nya, mengimani para Rasul-Nya, mengimani HARI KIAMAT, mengimani QODHO’ dan QODHAR, yang baik maupun yang buruk”

Namun, bukan berarti kita mempersepsikan bahwa IMAN itu sekedar PERCAYA dalam hati saja. Tentang IMAN DALAM HATI INI. Imam Asy Syafi’i ra melalui Kitab Karya Beliau yang berjudul ‘Syarh Ushul I’tiqad Ahlis Sunnah’, menjelaskan : “Setahu saya, telah menjadi ijma para sahabat serta para tabi’in bahwa iman itu berupa perkataan, perbuatan, dan niat (perbuatan hati), jangan mengurangi salah satu pun dari tiga hal ini”
Maka itu dengan demikian tidak dapat dibenarkan orang yang mengaku BERIMAN, namun enggan melaksanakan SHALAT, enggan MENMBAYAR ZAKAT, serta amalan-amalan lahiriah lainnya.

Ssaudaraku Para Jamaah Majelis Dzikir Wa Ta’lim Ash-haabul Yamiin yang kami cintai, smoga di AWAL BULAN SUCI RAMADHAN ini kita mampu merasakan KENIKMATAN IMAN. Sehingga dengan MAKNA TA’LIL dan TARRAJI’ dapat kita artikan bahwa alasan diwajibkannya PUASA adalah agar orang yang berpuasa mencapai DERAJAT TAQWA. Semoga ALLAH SWT meninggikan DERAJAT KAUM MUSLIMIN yang saat ini menjalakan IBADAH PUASA RAMADHAN. Aamiin Yaa Robbal’alamiin. (kangmas_bahar/bersambung)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *