Kedudukan dan Arti Penting Zakat

بسم الله الرحمن الرحيم
إنَّ الحَمْدَ لله، نَحْمَدُه، ونستعينُه، ونستغفرُهُ، ونعوذُ به مِن شُرُورِ أنفُسِنَا،
وَمِنْ سيئاتِ أعْمَالِنا، مَنْ يَهْدِه الله فَلا مُضِلَّ لَهُ، ومن يُضْلِلْ، فَلا هَادِي لَهُ.
أَشْهَدُ أنْ لا إلَهَ إلا اللهُ وَحْدَهُ لا شَرِيكَ لَهُ، وأشهدُ أنَّ مُحَمَّدًا عبْدُه ورَسُولُه.
اَللَّهُمَّ صَلِّى عَلَى مُحَمَّدٍ وَ عَلَى اَلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَ هُدًى

ZAKAT (Part 1)

ALHAMDULILLAH. Innalhamdalillah binikmatillah. Laa haula walaa quw-wata illa billa hil aliyyil’adziim. Yaa dzal jalaali wal-ikrom. Mugi kemawon panjenengan wonten ing ndalem dinten meniko tansah pinaringan sehat wal’afiyah, umur barokah, keluarga barokah, rizki barokah, sawayah-wayah dipundhut khusnul khootimah. Ilaa yaumil qiyamah fii syafa’ati Rasulillah SAW. Amien Yaa Mujibassailiin.
Jamaah Majelis Dzikir Wa Ta’lim Rahimahullah, sebagai Ummat Muslim kita meyakini bahwa ISLAM dibangun dengan dua pilar, yakni RUKUN IMAN dan RUKUN ISLAM. Konsep RUKUN IMAN adalah HAQQUL YAQIN (PERCAYA TANPA SYARAT) dan RUKUN ISLAM adalah SUMPAH dan JANJI kepada ALLAH SWT untuk menjalankannya sesuai TUNTUNAN NABI MUHAMMAD SAW.
Namanya SUMPAH & JANJI, aturan mainnya harus dijalankan dan ditepati. Misalnya saja SUMPAH PRAJURIT atau dikenal SAPTA MARGA, bagi setiap anggota TNI sebelum dinyatakan sah menjadi prajurit maka harus melalui prosesi pengambilan SUMPAH & JANJI SAPTA MARGA. Bila melanggar SAPTA MARGA maka konsekwensinya sangat berat yang berujung dipecat. Contoh, seorang prajurit dikhabari sakit keras, sementara ia harus menjalankan perintah membela negara. Maka prajurit, sesuai SUMPAH SAPTA MARGA harus memilih membela negara bukan keluarganya.
Kembali pada RUKUN ISLAM, ketika sudah bertekad bulat memilih menjadi MUSLIM maka harus mematuhi SUMPAH & JANJI menjalankan dan melaksanakan KEWAJIBAN LIMA HAL TANPA SYARAT. Yakni Syahadat, Sholat, Puasa, Zakat, dan Haji. Bila salah satu tidak dijalankan, maka seperti seorang Prajurit yang melanggar SAPTA MARGA tadi. Konsekwensinya sangat berat, dan bisa jadi kita dipecat.
Salah satu RUKUN ISLAM yang seringkali kita abaikan adalah yang namanya ZAKAT atau dalam bahasa sederhana adalah shodaqoh Wajib. Kita sering menjumpai banyak kawan kita yang rajin sholat di Masjid, namun tidak pernah rajin mengeluarkan zakat. Banyak kawan kita yang pergi haji berkali-kali, namun tidak pernah mengeluarkan zakat berkali-kali. Banyak kawan kita Puasa Ramadhan full 30 hari tanpa henti, namun mengeluarkan zakat berhenti. Yang diingat hanya ZAKAT FITRAH.
Zakat merupakan salah satu RUKUN ISLAM. Zakat diwajibkan atas setiap orang Islam yang telah memenuhi syarat. Selain melaksanakan perintah ALLAH Subhanahu wa Ta’ala, tujuan pensyariatan zakat ialah untuk membantu umat Islam yang membutuhkan bantuan dan pertolongan. Oleh karena itu, syariat Islam memberikan perhatian besar dan memberikan kedudukan tinggi pada ibadah zakat ini.
Kedudukan zakat dalam Islam sudah banyak diketahui oleh kaum Muslimin secara garis besarnya, namun untuk menegaskan pentingnya masalah zakat ini perlu dirinci kembali permasalahan ini dalam bentuk yang lebih jelas dan gamblang.
Kedudukan dan arti penting zakat dapat dilihat dari beberapa hal antara lain, Zakat adalah rukun Islam yang ketiga dan salah satu pilar bangunannya yang agung berdasarkan hadits yang diriwayatkan dari Ibnu ‘Umar Radhiyallahu anhuma bahwa Nabi Shallallahu bersabda bahwa Islam dibangun di atas lima perkara: syahadat bahwa tidak ada Rabb yang haq selain Allâh dan bahwa Muhammad adalah utusan Allâh, menegakkan shalat, menunaikan zakat, berpuasa Ramadhan dan haji ke Baitullah bagi siapa yang mampu [Muttafaqun ‘alaihi]
ALLAH Azza wa Jalla menyandingkan perintah menunaikan zakat dengan perintah melaksanakan shalat di dua puluh delapan tempat dalam al- Qur`ân. Ini menunjukkan betapa urgen dan tinggi kedudukannya dalam Islam. Kemudian penyebutan kata shalat dalam banyak ayat di al-Qur`ân terkadang disandingkan dengan iman dan terkadang dengan zakat.
Terkadang ketiga-tiganya disandingkan dengan amal shalih adalah urutan yang logis. Iman yang merupakan perbuatan hati adalah dasar, sedangkan amal shalih yang merupakan amal perbuatan anggota tubuh menjadi bukti kebenaran iman. Amal perbuatan pertama yang dituntut dari seorang mukmin adalah shalat yang merupakan ibadah badaniyah (ibadah dengan gerakan badan) kemudian zakat yang merupakan ibadah harta.
Oleh karena itu, setelah ajakan kepada iman didahulukan ajakan shalat dan zakat sebelum rukun-rukun Islam lainnya. Ini berdasarkan hadits Ibnu ‘Abbâs Radhiyallahu anhuma dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallamsaat beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengutus Mu’âdz Radhiyallahu anhu ke Yaman, beliau bersabda kepadanya:
“Sesungguhnya kamu akan datang kepada suatu kaum dari ahli kitab, ajaklah mereka kepada syahadat bahwa tidak ada Rabb yang haq selain Allâh dan bahwa aku adalah utusan Allâh, bila mereka mematuhi ajakanmu, maka katakanlah kepada mereka bahwa Allâh mewajibkan atas mereka shalat lima waktu dalam sehari semalam, bila mereka mematuhi ajakanmu maka katakan kepada mereka bahwa ALLAH SWT mewajibkan sedekah (zakat) yang diambil dari orang-orang kaya dari mereka dan diberikan kepada orang-orang miskin dari mereka
Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallamhanya menyebutkan shalat dan zakat (dalam hadits di atas) karena besarnya perhatian terhadap keduanya dan keduanya didahulukan sbelumnya selainnya dalam berdakwah kepada Islam. Juga dalam rangka mengikuti prinsip at-tadarruj (bertahap fase demi fase) dalam menjelaskan kewajiban-kewajiban Islam. Dan masih banyak lagi dalil-dalil dari al-Qur’an maupun al-hadits yang menunjukkan kedudukan zakat yang tinggi dalam Islam.
Islam telah menetapkan bahwa zakat sebagai kewajiban dan menjadikannya sebagai salah satu rukunnya serta memposisikannya pada kedudukan tinggi lagi mulia. Karena dalam pelaksanaan dan penerapannya mengandung tujuan-tujuan syar’i (maqâshid syari’at) yang agung yang mendatangkan kebaikan dunia dan akhirat, baik bagi si kaya maupun si miskin. Di antara tujuan-tujuan tersebut adalah membuktikan Penghambaan Diri Kepada Allâh Azza wa Jalla Dengan Menjalankan Perintah-Nya. Banyak dalil yang memerintahkan agar kaum Muslimin melaksanakan kewajiban agung ini, sebagaimana Allâh Azza wa Jalla firmankan dalam banyak ayat, diantaranya : “Dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan ruku’lah beserta orang-orang yang ruku’”. (al-Baqarah/2:43)
ALLAH Azza wa Jalla juga menjelaskan bahwa menunaikan zakat merupakan sifat kaum Mukminin yang taat. ALLAH Azza wa Jalla berfirman : “Hanya yang memakmurkan masjid-masjid Allâh ialah orang-orang yang beriman kepada Allâh dan hari akhir, serta tetap mendirikan shalat, menunaikan zakat dan tidak takut (kepada siapapun) selain kepada Allâh, maka merekalah orang-orang yang diharapkan termasuk golongan orang-orang yang mendapat petunjuk”. (at-Taubah/9:18)
Zakat bukan pajak. Zakat adalah ketaatan dan ibadah kepada Allâh Azza wa Jalla yang dilakukan oleh seorang Mukmin demi meraih pahala dan balasan di sisi ALLAH Azza wa Jalla. ALLAH Subhanahu wa Ta’ala berfirman : “Sesungguhnya orang-orang yang beriman, mengerjakan amal shalih, mendirikan shalat dan menunaikan zakat, mereka mendapat pahala di sisi Rabbnya. tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati”. (al-Baqarah/2:277)
“Tetapi orang-orang yang mendalam ilmunya di antara mereka dan orang-orang Mukmin, mereka beriman kepada apa yang telah diturunkan kepadamu (al-Quran), dan apa yang telah diturunkan sebelummu dan orang-orang yang mendirikan shalat, menunaikan zakat, dan yang beriman kepada Allâh dan hari Kemudian. Orang-orang itulah yang akan Kami berikan kepada mereka pahala yang besar”. (an-Nisa`/4:162)
Mensyukuri Nikmat Allâh Dengan Menunaikan Zakat Harta Yang Telah Allâh Azza wa Jalla Limpahkan Sebagai Karunia Kepada Manusia. ALLAH Azza wa Jalla berfirman : “Dan (ingatlah juga), tatkala Rabbmu memaklumkan, ‘Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih”. (Ibrâhim/14:7)
Para Jamaah Majelis Dzikir Wa Ta’lim Ash-haabul Yamiin yang dimuliakan ALLAH SWT, kami mengingatkan kembali kepada panjenengan bagaimana kedudukan ZAKAT dalam RUKUN ISLAM. Tulisan ini sengaja kami akan sajikan dalam TIGA SERI dengan harapan semoga kita makin memahami dan meresapi bagaimana meningkatkan keimanan kita kepada ALLAH SWT. Semoga ALLAH SWT menyinari qolbu kita, sehingga makin hari makin mengenal ALLAH SWT dan Rasulnya Muhammad SAW. Amien Yaa Robbal’alamin. Al Fatihah …. 21 x. (*/kangmas_bahar)

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *