ADA SEJAK LAHIR

Drs H Basuki Subianto selaku direktur, setelah membuka Pendidikan dan Latihan (Diklat) ‘Training of Trainer,’ di Pondok Pesantren Al-Baihaqy Berbasis Entrepreneur 29-31 Mei 2016 di Gunung Anyar Surabaya, langsung menyuguhkan paparannya. “Yang membedakan lembaga kita dengan yang lain adalah kita punya alat tes mindset. Dari hasil tes itu siswa akan dikelompokkan sesuai zonanya,” katanya.

 

 

Mereka kemudian didorong maju sesuai zonanya, sesuai kekuatan mental dan mindsetnya. Kalau zonanya karyawan maka diajari menjadi karyawan yang berprestasi, pekerja keras dan kreatif. Begitu pula kalau zonanya pengusaha dia diajari berbisnis dengan tempaan mental yang kuat.

Bohong kalau ada lembaga yang mengatakan bisa mendidik orang menjadi pengusaha. Pengusaha tak bisa dicetak lewat pendidikan, apalagi lewat pendidikan formal. Mindset dan bakal pengusaha ada sejak lahir. Mereka maju lebih secara otodidak ketimbang pendidikan formalnya. Cuma siapa saja orang yang diberi ALLAH SWT mindset pengusaha, kita tidak tahu.

Lembaga pendidikan entrepreneur hanya sebatas memberi pengetahuan, peluang dan praktik dagang. Apakah nantinya siswa itu menjadi pengusaha betulan atau malah senang menjadi karyawan, kita tak tahu. Kalau ada lembaga pendidikan atau sekolah yang bisa mencetak orang seperti Chaerul Tanjung yang bekerja selama 30 tahun dan memiliki kekayaan Rp 50 triliun, tentu sekolah itu akan diserbu peminat.

Sebenarnya keliru kalau semua orang diarahkan untuk ber-entrepreneur. “Kalau slogan  yang menghimbau orang untuk bekerja keras, kreatif, efesien, itu benar,” kata Basuki. Karena setelah orang bekerja keras dan kreatif maka mereka akan masuk dalam empat zona.

Zona pertama adalah karyawan. Kalau seseorang itu mindsetnya masuk katagori karyawan maka dia diarahkan menjadi karyawan yang berkualitas. Misalnya dengan menambah pendidikan masuk S2 atau S3 sehingga dia bisa menjadi staf ahli. “Kalau menjadi staf ahlinya Presiden Jokowi kan lumayan,” tambahnya.

 

“Yang membedakan lembaga kita dengan yang lain adalah kita punya alat tes mindset. Dari hasil tes itu siswa akan dikelompokkan sesuai zonanya,”

 

 

Zona kedua adalah karyawan berjiwa entrepreneur. Kalau Anda masih ingat tokoh seperti Tantri Abeng, Sri Mulyani Indrawati Mantan Menkeu serta Soekarwo Gubernur Jatim, mereka adalah orang masuk zona kedua. Mereka pandai memimpin perusahaan, lembaga pemerintah, tapi kalau membangun perusahaan sendiri, tidak berani. Takut bangkrut.

Zona ketiga adalah wirausaha. Orang yang berdagang dengan manajemen sederhana, seperti pedagang kaki lima (PKL). Di antara mereka ada yang mau berkembang sehingga memiliki restoran, namun ada yang sejak dulu hingga sekarang tetap menjadi PKL.

Zona keempat adalah pengusaha. Dalam zona ini ada grade. Grade 1–4. Grade 1 adalah pengusaha kecil. Grade 2 pengusaha menengah, Grade 3 pengusaha papan atas. Grade 4 adalah konglomerat.

Bagaimana untuk mengetahui mindset? “Di Pondok ini mereka yang ikut pendidikan akan dites lebih dahulu, masuk zona mana mindset mereka. Sehingga jenis pendidikannya bisa tepat,” kata Basuki mengakhiri paparannya.

Pondok Pesantren Al-Baihaqy mulai bulan Juli 2016 akan mulai beroperasi dengan mendidik sekitar 30-40 orang. Mereka dididik bekerja keras, kreatif dan berjiwa entrepreneur dengan landasan agama. Diharapan mereka nanti bisa mendapatkan nilai tambah dan lebih sejahtera dari keterampilan yang dimiliki. Karena itu langkah awal lembaga ini adalah mendidik calon tenaga trainer yang berlangsung akhir Mei lalu. (*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *