ATM, Resep Jitu Mulai Usaha

 

Anak muda kerap dipojokkan ketika akan memulai usaha. Di benaknya, berkecamuk banyak pertanyaan. Usaha apa ya, modalnya berapa, bisa untung tidak, dan seterusnya. Belum juga bergerak keburu lemes. Ujung-ujungnya tidak jadi berusaha.

Tidak perlu panik. Ini ada resep ringan yang bisa dipraktikkan. Resep itu namanya keren, ATM, tapi bukan Anjungan Tunai Mandiri. Tapi maksudnya Amati, Tiru, dan Modifikasi. “Setelah menentukan ide bisnis yang akan diusahakan, langsung action, nggak usah mikir yang macam-macam,” pesan Dodot Waskito alias Dodot.

Buang jauh-jauh rasa ragu, jangan bayangkan untung rugi, tapi fokus pada apa yang mesti dilakukan. “Di situ akan muncul spirit, ini modal berharga. Soal jalan apa tidak, untung apa rugi, itu nanti, bergerak, bergerak , dan terus bergerak,” ujar Dodot sambil menyebut jiwa entrepreneur itu dinamis dan tak gampang patah arang.

Bicara di depan peserta Training of Trainer yang diselenggarakan Pondok Pesantren Al-Baihaqy tiga hari terahkir bulan Mei lalu, Dodot percaya resep ATM jitu untuk meraih sukses. Apa itu ATM versi Dodot? A artinya amati. Yaitu mengamati bisnis yang sukses dijalankan orang lain. “Mengamati itu mempelajari seluk-beluk bisnis yang dijalankan orang lain itu,” ujar Dodot.

Langkah selanjutnya T, artinya tiru. Jika tidak ingin repot memeras otak dan energi untuk merancang sistem dan berbagai hal teknis, maka langkah “meniru” adalah cara paling mudah untuk dilakukan. Yang penting jangan melanggar etika. “Ini untuk menghindari situasi yang bisa berakibat buruk,” jelas Dodot.

Kemudian sampai pada langkah M, artinya modifikasi. Ini langkah pamungkas yang penting. Karena pada tahapan ini diperlukan kreativitas dan kejelian. Tujuannya untuk menambah daya tarik dari suatu produk yang ditiru. “Sehingga dari barang yang sama bisa menjadi berbeda bahkan lebih berkualitas,” tutur Dodot.

 

PERANG TANPA AHKIR

 

Drs. Yanto Prasetyo, Psi, Msi

Drs. Yanto Prasetyo, Psi, Msi, sependapat dengan Dodot. Bicara di kesempatan yang sama, Yanto, panggilan akrabnya, lebih melihat bahwa sikap dan perilaku inovatif sangat penting dimiliki calon-calon entrepreneur muda. “Bisnis itu ibarat perang tanpa ahkir. Artinya iklim kompetisinya tinggi sekali,” ujarnya.

Yanto menguraikan,  pengusaha kecil di Indonesia saat ini jumlahnya terus bertambah. Karena itu persaingan semakin tinggi. Mereka berlomba menawarkan berbagai macam produk agar mendapat apresiasi pasar. “Jawabannya apa? Inovasi!,” tegas Yanto lugas.

Langkah-lanngkah pengusaha kecil, menengah, juga atas, dituntut inovatif. Kalau tidak sanggup, ya selamat tinggal! “Salahnya sendiri,” ujar Yanto tertawa.

Tapi bagaimana caranya agar langkah inovatif itu bisa terpelihara dengan baik. Yanto, yang banyak bicara di forum-forum pengembangan bisnis, entrepreneur muda harus banyak belajar. Bukan belajar seperti di bangku kuliah atau sekolah, tapi belajar dari pesaing dan pasar. “Dari situ insya Allah, ide-ide akan muncul, mengalir, dan cepat laksanakan, biar tidak basi,” jelas Yanto yang suka bicara ceplas-ceplos.

Pengajar ilmu spikologi Untag, Surabaya, ini menantang pemula di dunia usaha untuk tidak gampang puas. Gampang puas itu, menurut Yanto, penyakit yang harus dilibas para pengusaha kecil pemula. “Pokoknya harus ada dorongan untuk terus berubah. Gali ide kreatif, dan jangan ragu untuk mewujudkan. Kalau gagal?  Pengusaha tidak boleh merasa gagal,” pesan Yanto berapi-api.

Itulah kenapa Yanto menyebut bisnis itu ibarat perang tanpa ahkir. Kalau ingin tetap eksis, ya harus berperang terus. Artinya bergerak terus melakukan inovasi dengan ide-ide kreatif. “Awalnya meniru, boleh-boleh saja. Tapi setelah itu harus menjadi pencipta. Menawarkan sesuatu karya yang original,”pungkas Yanto. (yok)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *