Tren Bisnis Angkringan: Modalnya Kecil

Angkringan naik daun di Surabaya. Model berdagang panganan dan minuman khas rakyat Yogyakarta ini sekarang marak di sudut-sudut strategis Surabaya. Tidak seperti di kota asalnya, dulu, angkringan cuma hidup di emperan pasar-pasar tradisional.

Tidak jelas siapa yang pertama mengadopsi angkringan masuk Surabaya. Tapi sekarang angkringan di Surabaya sudah menjadi pilihan orang untuk kongkow sambil mengisi perut dengan biaya murah! Seperti apa angkringan Surabaya?

Kekhasan “identitas” angkringan masih tetap dipertahankan. Menawarkan nasi kucing, bakaran sate burung puyuh, sate usus ayam, juga tempe tahu bacem. Minumannya teh, kopi, kopi jos (kopi dicelup bara arang), wedang jahe, wedang uwuh (ramuan kayu secang, jahe, daun salam dan gula batu), yang selalu dijerang di ceret besar. Tapi angkringan Surabaya “dimodivikasi” dengan menyajikan aneka penyetan, seperti penyetan telor, tahu tempe, dan ikan pe.

Tampilan angkringan Surabaya menjadi terkesan modern karena juga memberi servis akses Wi-Fi gratis. Jadi jangan kaget kalau orang  yang datang ke angkringan akan betah tinggal berlama-lama, nge-game atau browsing macam-macam kepentingan.

“Tapi sekarang fasilitas Wi-Finya saya tutup biar tidak banyak orang ngendon,” ujar Ola, kasir angkringan dan cafe di pojok Taman Apsari di lingkungan patung Gubernur Suryo. Tidak takut ditinggal pelanggan anak muda? “Awalnya berkurang, tapi sekarang sudah pulih kembali,” jelas Ola.

Ola sendiri bukan pemilik angkringan yang membuka 25 meja yang berseberangan persis dengan  gedung negara Grahadi itu. Dia kakak dari Herman, pemilik angkringan yang jarang sekali datang kesana. Herman hanya menerima laporan harian. “Semua dipercayakan ke saya, dia ngurus pekerjaan lain,” kata Ola.

Ola tidak tahu persis berapa modal untuk membuka usaha angkringan dan cafe itu. Tapi, kata Ola, Herman pernah menyebut sekitar Rp 15 juta. Nilai modal ini di luar sewa tempat yang dibayar bulanan. “Nggak tahu ya berapa sewanya, semua diurus Herman,” katanya.

Meski begitu Ola tahu, biaya untuk cafe lebih besar ketimbang untuk angkringan. Karena cafe juga difasilitasi tabung-tabung shisha selain sejumlah menu masakan seperti nasi goreng, nasi campur dan rawon.

Untuk menikmati shisha, orang harus merogoh kocek Rp 40 ribu per dua jam. “Mau rasa buah apa saja ada,” promosi Ola.

Beda dengan jika orang ingin menikmati menu angkringan. Makan dua nasi kucing dengan lauk dua tusuk sate kulit ayam, dua tusuk sate jerohan, plus sepotong tempe tahu bacem dan dua gelas teh, tidak akan menghabiskan selembar 50 ribuan rupiah. “Kami punya banyak pelanggan tetap,”jelas Ola.

Ola menyebut, setiap malam angkringannya paling buruk bisa meraup Rp 3 juta. Tapi malam Minggu, omzet itu bisa melonjak sampai Rp 5 juta. Tapi di awal puasa lalu, sempat drop ke angka Rp 2 juta. “Tapi itu tidak lama, memasuki hari ke lima puasa dan seterusnya normal lagi, rata-rata Rp 3 juta per malam,” jelas Ola.

Karena itu, setelah merangkak ke tahun ke empat kini, usaha angkringan itu diyakini Ola sudah lama melewati break event point. “Saya tidak tahu rielnya, tapi rasanya kok begitu ya,” ujar Ola. (yok)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *